Sumber : http://okupasiterapijogja.wordpress.com/2008/05/28/treatment-anak-berkebutuhan-khusus/
Treatment Anak Berkebutuhan Khusus
Senin, 17 Mei 2010
Sumber : http://okupasiterapijogja.wordpress.com/2008/05/28/treatment-anak-berkebutuhan-khusus/
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.23
0
komentar
Label: ADHD
Terapi Oksigen HyperBaric untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Kini para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus semisal autis, celebral palsy (CP), epilepsi, down sindrome bisa mendapatkan alternatif terapi melalui terapi oksigen Hyperbaric atau disebut juga HBOT.
Goh Khoon Seng dari Poliklinik Baromed, Pusat Terapi Oksigen di Kuala Lumpur Malaysia didamping Rizman Dato' Haji Azahar saat berbicara pada seminar Hyperbaric Oxygen Therapy dihadapan para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus mengatakan meski belum dapat diterima secara ilmiah sebagai terapi pilihan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, namun ada rujukan yang menunjukkan kemajuan pada anak-anak tersebut.
"Meski ada tanda-tanda menunjukkan kemajuan pada anak-anak berkebutuhan khusus setelah menjalani HBOT, namun hal ini belum bisa diterima secara ilmiah sebagai terapi pilihan," kata Goh Khoon Seng yang memberikan pemaparan HBOT di klinik HMC Jalan Hayam Wuruk Medan, pusat terapi anak berkebutuhan khusus (autis), Selasa (2/2).
Dijelaskan Goh Khoon Seng, HBOT merupakan terapi untuk menyalurkan kepada pasien oksigen 100 persen dengan tekanan yang lebih besar dari normal (biasanya setara dengan tekanan 5-10 meter dibawah air) melalui kamar (ruangan) yang didisain khusus. Tujuannya untuk menaikan jumlah ketersediaan oksigen pada orang tersebut.
Udara yang kita hirup terdiri dari 21 persen oksigen. Namun dengan menghirup oksigen 100 persen pada tekanan tinggi, oksigen dalam jumlah besar akan disalurkan ke jaringan dan larut dalam cairan tubuh, cairan plasma cerebrospinal dalam otak dan limpa. Oksigen di bawah tekanan larut dalam hemoglobin dan plasma hingga 15 kali lebih besar dari oksigen biasa.
Di Malaysia HBOT sudah mulai dikenalkan oleh Dr Mustapha Kamar Karim, salah seorang dokter yang banyak mempelajari tentang HBOT dan telah memiliki sertifikasi dasar dan lanjutan pada Officer Diving & Hyperbaric Medicine Course di Rumah Sakit Royal, Australia. Di Poliklinik Baromed para pasien HBOT akan dipandu oleh dr Mustapha Kamar Karim.
HBOT kata Goh Khoon Seng memiliki keefektifan terapi pada penderita diabetes sehingga tidak perlu diamputasi kakinya. Cara kerja HBOT, HBOT akan mengecilkan pembuluh darah dan mengurangi bengkak dan HBOT akan menambahkan kepekatan oksigen di kawasan tertentu.
HBOT juga merangsang pertumbuhan kolagen yang sangat diperlukan untuk memulihkan luka pada penderita diabetes. Terapi ini juga untuk memperkuat keupayaan sel-sel darah putih untuk membasmi bakteria, merangsang pertumbuhan dan pembukaan pembuluh darah.
HBOT hanya diberikan kepada pasien yang membutuhan oksigen medis. Oleh karenanya pemberian HBOT harus mengacu pada aturan yang telah ditetapkan yakni pasien yang menerima HBOT tidak dibolehkan menyelam (berenang boleh), tidak boleh naik pesawat terbang (minimal 24 jam setelah pemberian HBOT), jangan makan terlalu banyak, hindari makan/minuman bersoda, jangan menggosokan gigi 24 jam sebelumnya, jangan melakukan HBOT jika demam, HBOT juga tidak boleh diberikan pada penderita asma dan penyakit paru-paru.
Untuk anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan HBOT berdasarkan kasusnya dan biasanya sesuai dengan saran dokter, setelah melakukan HBOT, anak berkebutuhan khusus akan direkomendasikan kembali untuk melakukan HBOT dalam waktu 1-2 bula jika ada peningkatan yang baik.
Namun perlu diingat HBOT dilarang untuk wanita hamil karena dapat menyebabkan keguguran pada kehamilan muda. ***
Sumber : http://www.inimedanbung.com/node/6135
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.20
0
komentar
Label: ADHD
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) MASIH TERABAIKAN
Sosialisasi yang difasilitasi Plan PU Kebumen, menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah, Drs. Mulyono, M.Pd., dan Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen, Agus Purwanto.
Dalam paparannya Drs. Mulyono, M.Pd. menjelaskan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus atau child with special needs, adalah anak yang secara fisik/sensorik, intelektual, social, emosional, dan atau kemampuan komunikasinya menyimpang dari criteria normal secara signifikan sehingga karena penyimpangan tersebut membutuhkan layanan pendidikan khusus (special education).
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.16
0
komentar
Label: ADHD
Sekolah Umum Harus Siap Tampung Anak Berkebutuhan Khusus

Ilustrasi (Foto: bbc)
Jakarta, Jumlah anak dengan kebutuhan khusus yang memasuki usia sekolah terus meningkat. Tapi sayangnya pendidikan mereka kerap terhambat oleh keterbatasan sarana pendidikan yang dimiliki oleh sekolah umum mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan atas.Jumlah anak penderita autis dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 1987, rasio anak autis adalah 1:5.000, ini berarti diantara 5.000 anak ada satu anak autis.
Angka ini meningkat tajam setelah 10 tahun (1997) yakni menjadi 1:500, kemudian menjadi 1:150 pada tahun 2000. Para ahli memperkirakan pada tahun 2010 ini penderita autis akan meningkat mencapai 60 persen dari keseluruhan populasi dunia.
Data Ditjen Dikti menyebutkan di Indonesia terdapat 811 sekolah inklusi yang diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan jumlah total 15.144 siswa. Namun jumlah ini belum dapat menampung seluruh anak dengan kebutuhan khusus yang ada di Indonesia.
Melihat fenomena ini, Dirjen Dikti Prof.Dr.H.Fasly Djalal, MBA, MSI dalam jumpa pers, Senin (1/3/2010) mengatakan akan memberikan dukungan bagi sekolah-sekolah umum agar mereka lebih siap dan terbuka untuk menerima dan mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pengajar juga akan dibekali wawasan mengenai pendidikan untuk ‘dunia kebutuhan khusus’.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.11
0
komentar
Label: ADHD
Rancangan Pembelajaran Bagi Anak Berbakat (Gifted Child) Dalam Setting Iinklusif
A. Pendahuluan
Di dalam kelas yang beragam tentunya kita akan menemukan pula keberagaman kemampuan belajar yang dimiliki oleh siswa. Kita akan menjumpai siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dalam beberapa mata pelajaran dibanding teman-temannya, ada pula yang prestasi belajarnya rendah, bahkan mungkin kita akan menjumpai siswa yang memiliki minat hanya pada satu pelajaran saja serta ia sangat berprestasi dalam pelajaran itu.
Keberagaman itu sering luput dari perhatian guru. Guru lebih memilih melakukan pembelajaran dengan cara atau metode yang sama untuk semua anak. Padahal satu cara itu tidak mungkin memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar siswa dalam satu kelas yang begitu beragam.
Tidak terpenuhinya kebutuhan dan kemampuan belajar yang dimiliki oleh siswa akan menimbulkan berbagai dampak, diantaranya potensi belajar tidak berkembang secara optimal, menimbulkan perilaku yang mengganggu suasana kelas, rendah motivasi, dan lain-lain. Munculnya dampak tersebut sering ditanggapi oleh guru sebagai hal yang negatif sehingga upaya yang dilakukan untuk mengatasinya tidak menyentuh pada “akar” permasalahan. Upaya yang tidak tepat dapat merugikan semua siswa. Misalnya, siswa yang sesungguhnya memiliki potensi belajar yang sangat baik akan tidak berkembang potensinya itu jika upaya yang dilakukan tidak tepat. Prestasi belajarnya akan berada jauh di bawah potensi yang dimiliki.
Sebagaimana yang sering terjadi pada kasus-kasus anak berbakat. Mereka sering dituduh sebagai anak nakal, pemalas, suka mengganggu, atau bahkan disebut anak bodoh. Sesungguhnya perilaku negative yang muncul dari anak berbakat itu lebih disebabkan oleh factor pembelajaran yang tidak mampu mengakomodasi kemampuan dan kebutuhan belajarnya. Tentunya itu sangat merugikan.
Sangat disayangkan bila kondisi ini terus terjadi. Jika terus terjadi makan kita akan banyak kehilangan generasi unggul. Kerugian besar bagi kita jika anak-anak berbakat ini tidak dapat mengaktualisasikan potensinya. Sebaliknya, apabila mereka mampu mengaktualisasikan potensinya maka bangsa ini akan memperoleh manfaat yang besar dari hasil-hasil karya mereka.
Oleh karena itu perlu dipikirkan suatu pembelajaran yang dapat mengakomodir kemampuan dan kebutuhan belajar anak-anak berbakat ini. Pembelajaran yang dilakukan tentunya harus tetap memperhaikan keberagaman kemampuan belajar. Maksudnya adalah pembelajaran bagi anak berbakat tetap dilakukan di sekolah-sekolah regular dalam setting inklusif.
Mengapa demikian? Karena semua anak, diantaranya anak berbakat, tetap harus belajar menghadapi keberagaman, nantinya pun ketika mereka selesai mengikuti pendidikan akan kembali kemasyarakat. Apabila mereka telah belajar tentang keberagaman maka ketika mereka kembali kemasyarakat diharapkan mampu menyikapi keberagaman yang ada di masyarakat dengan sikap-sikap yang baik sesuai dengan potensi yang mereka miliki.
B. Rancangan Pembelajaran Bagi Anak Berbakat (Gifted Child) Dalam Setting Inklusif
Rancangan pembelajaran ini didasari oleh konsep keberbakatan yang diungkapkan oleh Joseph S. Renzulli (1998), bahwa keberbakatan itu harus memenuhi tiga area, yaitu kecerdasan di atas rata-rata, memiliki kreatifitas, dan keterikatan terhadap tugas/motivasi. Dari konsep keberbakatan tersebut, maka pendidikan yang efektif bagi anak-anak berbakat harus memperhatikan, sekurang-kurangnya meliputi pemilihan konten materi, pendekatan pembelajaran, memberikan peluang pembelajaran yang mengacu pada kebutuhan belajar anak berbakat.
Untuk mewujudkan itu maka diperlukan langkah-langkah yang meliputi; identifikasi, asesmen, diferensiasi kurikulum (konten, proses, produk), dan strategi (materi, metode, penataan lingkungan, evaluasi).
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.10
0
komentar
Label: ADHD
KONSEP DASAR ASESMEN

Apabila proses asesmen tidak dilakukan maka pembelajaran yang dilakukan tidak memiliki dasar/pijakan untuk mencapai indikator materi pembelajaran yang diharapkan. Anak-anak pun akan kesulitan menguasai materi pembelajaran karena materinya tidak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajarnya. Kegagalan dalam pembelajaran dapat diakibatkan oleh tidak adanya data hasil asesmen. Dengan demikian asesmen memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.
Mengingat begitu pentingnya asesmen ini maka setiap guru bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) harus memahami dan mengimplementasikan asesmen. Tulisan ini hadir bermaksud untuk memberikan pemahaman dasar mengenai asesmen agar guru-guru ABK dapat mengimplementasikan asesmen dengan dasar-dasar asesmen yang kuat.
A. Definisi Asesmen
Perlu difahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tes, evaluasi dan asesmen. Tes adalah mengukur kemampuan dengan soal-soal. Evaluasi adalah aktifitas yang di dalamnya terdapat aktifitas pengukuran dan penilaian (membandingkan) yang kemudian memaknai hasilnya.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.09
0
komentar
Label: ADHD
LAHIRNYA PENDIDIKAN INKLUSIF
Oleh Iim Imandala
Sebelum munculnya pemikiran tentang pendidikan inklusif, setidaknya dilatarbelakangi adanya sejumlah orang yang terpinggirkan atau ditolak sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Faktor utama yang menyebabkan mereka terpinggirkan/tertolak adalah faktor pendidikan (UNESCO, 1990) sehingga pendidikan menjadi isu utama untuk mengatasi masalah ini. Jika kita mengacu pada data International Consultative Forum on Education for All (2000) di dunia ini terdapat 113 juta orang anak-anak usia pendidikan dasar yang tidak sekolah. 90% dari jumlah itu berada di negara yang penghasilannya rendah hingga menengah serta lebih dari 80 juta orang anak-anak seperti itu tinggal di negara-negara Afrika. Kalaupun ada yang mampu sekolah, sebagian dari mereka drop out/putus sekolah padahal pendidikannya belum selesai.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.08
0
komentar
Label: ADHD
AREA KESULITAN YANG DIMILIKI OLEH AUTISTIC SPECTRUM DISORDER
Oleh Iim Imandala, S.Pd.*

Kami telah mengidentifikasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi oleh beberapa kasus ASD yang ada di sekolah kami ketika mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Hasil identifikasi menunjukkan sedikitnya ada enam area yang menjadi kesulitan bagi anak-anak ASD pada umumnya, yaitu: masalah perilaku, kemampuan belajar dan berpikir, percakapan, sensori dan pengalaman gerak, bahasa dan komunikasi, dan keterampilan social. Memang, dari keenam area tersebut tidak ada yang dimiliki secara utuh oleh anak-anak ASD. Kesulitan-kesulitan yang dimiliki tersebut dipengaruhi pula pengalaman belajar dan kondisi-kondisi lain, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dyspraxia dan mungkin pula dyslexia.
Secara lengkap hasil identifikasi kesulitan yang dimiliki oleh anak ASD dapat dilihat pada tabel berikut
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.06
0
komentar
Label: ADHD
REMEDIAL MEMBACA DENGAN METODE FERNALD BAGI ANAK DISLEKSIA
(dipublikasikan juga di http://iimimandala.blogspot.com)
Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Begitu pula dengan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus (UU No. 20 Tahun 2003 dalam Sub Dinas PLB Jabar, 2007). Warga negara yang berkelainan tersebut dan masih berusia anak–anak disebut Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak disleksia sebagai bagian dari anak berkebutuhan khusus, tentunya mereka juga berhak memperoleh pendidikan khusus agar dapat berkembang sesuai dengan potensinya.
Dalam proses pendidikan formal, anak disleksia (sebutan umum bagi anak berkesulitan belajar membaca secara khusus) ini banyak ditemui di sekolah reguler (SD), terutama di kelas I, 2 dan 3. Meskipun demikian jumlah pasti anak disleksia di Indonesia khususnya di Jawa Barat belum dapat dipastikan (Sunardi dan Sugiarmin, M., 2001). Prevalensi tentang jumlah siswa yang mengalami kesulitan belajar pada setiap kelas belum bisa diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan 2-10% (Somad, P., 2002:40). Anak berkesulitan belajar keberadaanya sering dianggap sebagai siswa yang berprestasi rendah (underachivers) umumnya kita temui di sekolah reguler (Delphie, B, 2006 :24). Anak disleksia banyak ditemui di sekolah reguler karena kelainan yang mereka miliki tidak kasat mata sehingga mereka bisa diterima di sekolah reguler. Akibatnya keberadaan mereka sering tidak disadari oleh lingkungannya, terutama oleh guru.
Sebagian guru beranggapan, bahwa anak disleksia ini sebagai anak yang bodoh, berprestasi rendah, pemalas, kurang konsentrasi, atau anak nakal. Anggapan itu muncul karena guru tidak paham tentang anak ini, sehingga upaya yang dilakukan oleh guru pun kurang optimal atau tidak sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan anak. Seharusnya sebagai guru yang “mumpuni” adalah guru yang mampu mengorganisir kegiatan belajar mengajar di kelas melalui program pembelajaran individual dengan memperhatikan kemampuan dan kelemahan setiap individu siswa ( Delphie, B., 2006 :1). Anggapan guru atau tindakan guru yang kurang tepat dapat menambah parah kesulitan belajar membaca yang dialami oleh anak disleksia.
Seharusnya guru memahami dengan benar bahwa mereka memiliki prestasi yang rendah karena kesulitan membaca yang mereka alami sehingga membawa dampak pada penguasaan bidang studi lainnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Lerner (1984 dalam Abdurrahman, M., 2003) bahwa kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi yang dipelajari di sekolah. Jika siswa mengalami kesulitan membaca maka ia akan berkesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Adanya kesulitan membaca akan mengakibatkan ketidakmampuan menangkap pesan-pesan tulisan, padahal hampir semua mata pelajaran pesannya disampaikan melalui (huruf, angka-angka, dan simbol-simbol lain) (Somad, P., 2002). Jadi yang paling awal harus dilakukan adalah mengatasi kesulitan membacanya dahulu.
Selain masalah pemahaman guru yang masih kurang tentang anak disleksia ini, masalah lain adalah masih dirasakan beban tugas guru yang cukup berat. Guru harus mengajar dengan rasio 1:40 (Somad, P., 2002) dan guru juga dituntut peran ganda, disamping mengajar juga sebagai pembimbing (Dikdasmen, 1990/1991 dalam Somad, P., 2002), sehingga dengan kondisi-kondisi tersebut anak berkesulitan membaca belum tertangani secara optimal.
Kesulitan belajar membaca memerlukan perhatian yang serius, sehingga anak yang mengalami kesulitan belajar membaca dapat memahami mata pelajaran lainnya secara lancar. Penanganan kesulitan belajar membaca ini, terutama, harus dilakukan sejak tahap membaca permulaan. Pada tahap tersebut, belajar membaca menjadi sangat penting karena merupakan fondasi untuk belajar membaca pada tahap lebih lanjut. Apabila pada tahap ini anak mengalami kesulitan maka akan berpengaruh pada pelajaran membaca selanjutnya. Seperti yang terjadi pada anak disleksia, mereka sangat banyak memiliki hambatan pada tahap membaca permulaan sehingga tidaklah mengherankan jika ia mendapatkan kesulitan memahami isi bacaan dan menemui kesulitan mengikuti tahap membaca lanjut, hal ini, berdampak pada prestasi belajar.
Anak disleksia sebagai bahan makalah yang dimaksudkan adalah siswa-siswa Sekolah Dasar (SD) yang dalam membacanya sulit membedakan huruf vocal (a, i, u, e, o), terbalik huruf “tedi“ dibacanya “tebi“, menghilangkan kata atau huruf “ibu membeli roti“ dibacanya “ibu beli roti“, sulit membedakan konsonan yang bentuknya mirip “nenas“ dibacanya “memas“, “roti“ dibacanya “rori“ atau “toti“, kondisi itu disebabkan bukan oleh keterbelakangan mental, gangguan emosional, tunarungu, tunanetra, bukan karena hambatan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Oleh karena itu perlu adanya pemikiran tentang penanganan kesulitan membaca permulaan pada anak disleksia ini. Melalui makalah ini munculah pemikiran untuk menangani kesulitan membaca tersebut dengan pengajaran remedial membaca permulaan bagi anak disleksia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
“Bagaimana Pengajaran Remedial Membaca Permulaan Anak Disleksia ?“
Untuk menjawab masalah tersebut, maka diajukan pertanyaan berikut:
a. Bagaimana konsep dasar anak disleksia ?
b. Bagaimana konsep dasar membaca permulaan?
c. Bagaimana bentuk-bentuk kesulitan membaca permulaan anak disleksia ?
d. Bagaimana remedial membaca permulaan anak disleksia ?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh pemahaman mengenai pengajaran membaca permulaan bagi anak disleksia.
2. Manfaat
a. Diharapkan dapat menjawab persoalan pengajaran membaca permulaan bagi anak disleksia
b. Diharapkan hasil pemikiran ini dapat menjadi bahan informasi berkaitan dengan pengajaran remedial membaca permulaan di sekolah, baik di sekolah regular (SD) maupun sekolah luar biasa (SLB).
D. Sistimatika Penulisan Makalah
Untuk mendapatkan gambaran bahasan yang terarah maka sistimatika isi keseluruhan makalah ini terdiri dari :
a. Bab I. Membahas (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan dan manfaat.
- Bab II. Kajian teori, mencakup (1) konsep dasar anak disleksia dan membaca permulaan, (2) penerapan remedial terhadap kesulitan membaca anak disleksia.
- Bab III. Kesimpulan dan Saran.
1. Ruang Lingkup
a. Konsep dasar anak disleksia
b. Kemampuan membaca anak disleksia
c. Konsep dasar membaca permulaan
d. Penerapan remedial membaca
2. Prosedur Pemecahan Masalah
Dalam membahas dan pemecahan masalah dalam makalah ini dengan cara sebagai berikut :
1. Melakukan kajian pustaka yang berkaitan dengan:
a. Konsep dasar anak disleksia.
b. Kemampuan membaca anak disleksia.
c. Gambaran pelaksanaan remedial membaca permulaan bagi anak disleksia.
2. Menyimpulkan masalah pengajaran remedial membaca permulaan bagi anak disleksia.
1. Pengertian Anak Disleksia
Anak disleksia merupakan bagian dari anak berkesulitan belajar. Untuk menunjukkan bahwa anak disleksia adalah bagian dari anak berkesulitan belajar, dapat dilihat dari definisi anak berkesulitan belajar (learning diabilities), yaitu anak yang memiliki kesulitan belajar dalam proses psikologis dasar, sehingga menunjukkan hambatan dalam belajar berbicara, mendengarkan, menulis, membaca, dan berhitung, sedangkan mereka ini memiliki potensi kecerdasan yang baik tapi berprestasi rendah, yang bukan disebabkan oleh tunanetra, tunarungu, terbelakang mental, gangguan emosional, gangguan ekonomi, sosial atau budaya (Public Law 94-142, 1997; Delphie, B., 2006:27)
Jadi jelaslah dari definisi di atas disleksia merupakan bagian dari learning disabilities (berkesulitan belajar), karena disleksia menunjukkan adanya kesulitan dalam membaca yang bukan diakibatkan oleh kasus-kasus utama (seperti terbelakang mental, hendaya visual dan pendengaran, kelainan gerak serta gangguan emosional (Delphie, 2006:28)) dan bukan disebabkan oleh gangguan yang merugikan dari lingkungan dan budayanya.
Selanjutnya akan dijelaskan pengertian disleksia secara harfiyah, peristilahan dan dari beberapa ahli. Secara harfiyah disleksia (dyslexia) berarti tidak mampu membaca. Menurut Reid & Hresko (M.Sodiq A. 1996:3). Disleksia berarti suatu kesulitan pada membaca. Sedangkan Hornsby (M.Sodiq A, 1996:3) menyatakan bahwa kata disleksia berarti kesulitan pada kata-kata atau bahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa disleksia merupakan suatu kondisi atau bentuk kesulitan belajar membaca, kesulitan belajar membaca kata atau bahasa yang disebabkan oleh gangguan saraf pusat.
Secara terminologi, istilah disleksia dirujukan pada kesulitan belajar membaca tingkat berat sampai amat berat pada diri seseorang. Mengingat konsep disleksia seperti itu, maka terdapat berbagai pengertian disleksia yang satu sama lain kadang-kadang terkesan kontroversi. Hal ini dimungkinkan oleh berbagai alasan, diantaranya: (a) didasarkan pada orientasi dan titik pandang yang berbeda-beda, dan (b) bermuara pada luas sempitnya wawasan pengetahuan dan pengalaman pengusulnya.
Terdapat beberapa pengertian disleksia yang dikemukakan para ahli seperti berikut.
a. Disleksia merujuk pada anak yang tidak dapat membaca sekalipun penglihatan, pendengaran. Inteligensinya normal, dan ketrampilan usia
bahasanya sesuai. Kesulitan belajar tersebut akibat faktor neurologis dan tidak dapat diatributkan pada faktor kedua, misalnya Iingkungan atau sebab sebab sosial (Corsini,1987).
b. Disleksia sebagai kesulitan membaca berat pada anak yang berinteligensi normal dan bermotivasi cukup, berlatar belakang budaya yang memadai dan berkesempatan memperoleh pendidikan serta tidak bermasalah emosional (Guszak,1985).
c. Disleksia adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, yang secara historis menunjukan perkembangan bahasa lambat dan hampir selalu bermasalah dalam menulis dan mengeja serta berkesulitan dalam mempelajari sistem representasional misalnya berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. ( Bryan & Bryan dikutif Mercer,1987).
d. Disleksia adalah bentuk kesulitan belaiar membaca dan menulis terutama belajar mengeja secara betul dan mengungkapkan pikiran secara tertulis dan ia telah pernah memanfaatkan sekolah normal serta tidak memperlihatkan keterbelakangan dalam mata pelajaran-mata pelajaran lainnya ( Hornsby dalam Sodiq, 1996:4)
Jadi pengertian disleksia adalah suatu tipe atau bentuk kelainan membaca yang disebabkan oleh faktor-faktor neurologis, genetika, dan psikologis dasar, tapi umumnya mereka ini cukup cerdas yang ditandai oleh skor IQ rata-rata/ normal atau di atas rata-rata. Untuk penanganannya membutuhkan keterlibatan para ahli selain guru yang bersangkutan, seperti ahli pendidikan khusus dan psikolog, Wikipedia (2007) menambahkan, anak disleksia memiliki kesulitan dalam mengasosiakan antara bentuk huruf dengan bunyinya dan mereka juga sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf-huruf tertentu.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa anak disleksia adalah anak yang mengalami kesulitan belajar membaca yang disebabkan oleh faktor neurologis, genetika, dan psikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan dalam mengasosiasikan antara bentuk huruf dan bunyinya dan mereka juga sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf-huruf tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata bahkan ada di atas rata-rata.
2. Karakteristik Anak Disleksia
Karakteristik anak disleksia amat bervariasi tergantung masalahnya. Sodiq (1996: 5) memberikan karakteristik anak disleksia sebagai berikut: (1) membaca lamban, turun naik intonasinya, dan kata demi kata; (2) sering membalikan huruf-huruf dan kata-kata; (3) mengubah huruf pada kata; (4) kacau terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya: bau, buah, batu, buta; dan (5) sering menebak dan mengulangi kata-kata dan frasa .
Pada anak disleksia kesalahan-kesalahan membaca oral tersebut sering disertai oleh kelainan bicara, yaitu: (1) gangguan artikulasi, (2) gagap, dan (3) pembalikan konsep waktu dan ruang misalnya kacau terhadap konsep belakang dan muka,atas bawah, kemarin dan besok. Selain itu pada anak disleksia sering juga ditandai adanya bentuk kesalahan mengeja dan kesalahan tulis, misalnya jika didiktekan kata pagar maka ditulis papar.
Berkaitan dengan berbagai bentuk kesalahan dan problem yang dimiliki oleh anak disleksia tersebut, Gearheart (1984) menyatakan disleksia merupakan kesulitan membaca berat yang disertai oleh gangguan persepsi visual dan problem-problem dalam menulis misalnya perbalikan dan tulisan cermin (mirror writing).
Menurut Ekwall & Shanker 1988 (dalam M.Sodia, A, 1996:6) ada beberapa simtom berkaitan dengan kasus kesulitan belajar membaca berat (disleksia):
a. Pembalikan huruf dan kata,misalnya membalikan huruf b dengan d; p dengan a, u dengan n; kata kuda dengan daku palu dengan lupa; tali dengan ilat; satu dengan utas.
b. Pengingatan pada kata mengalami kesulitan atau tidak menentu (eratik)
c. Membaca ulang oral (secara lisan) tak bertambah baik setelah menyusul
d. Membaca tanpa suara (dalam hati) atau membaca oral (secara lisan) yang pertama
e. Ketidak sanggupan menyimpan informasi dalam memori sampai waktu diperlukan
e. Kesulitan dalam konsentrasi
i. Koordinasi motorik tangan-mata lemah
j. Kesulitan pada pengurutan
k. Ketaksanggupan bekerja secara tepat
l. Penghilangan tentang kata-kata dan prasa
m. Kekacauan berkaitan dengan membaca secara lisan (oral) misalnya tak mampu membedakan antara d dan p
n. Diskriminasi auditori lemah
o. Miskin dalam sintaksis (ilmu tata bahasa), gagap, dan bicara terputus-putus
p. Prestasi belajar dalam berhitung tinggi dari pada dalam membaca dan mengeja
q. Hyperaktivitas.
Sementara itu Guszak ( dalam M.Sodik A, 1996: 6) mengemukakan ciri-ciri anak disleksia sebagai berikut:
a. Membalikan huruf atau kata
b. Kesulitan/tak mampu mengingat kata
c. Kesulitan/tak mampu menyimpan informasi dalam memori d. Sulit berkonsentrasi.
e. Sulit dalam melihat keterhubungan (relationship),
f. Impulsif.
g. Sulit melakukan koordinasi tangan-mata,
h. Sulit dalam segi mengurutkan,
i. Membaca lambat,
j. Penanggalan kata, frasa dan sebagainya,
k. Kekacauan membaca secara oral,
l. Hyperaktif, dan
m. Kinerja matematika secara signifikan lebih tinggi dari pada kinerja membaca
3. Faktor Penyebab
Penyebab utama disleksia adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis. Disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain:
a. Faktor genetik
b. Luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen
c. Biokimia yang hilang (misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan syaraf pusat)
d. Biokimia yang merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan), pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran timah hitam), gizi yang tidak memadai
e. Pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan)
Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari tarap yang ringan hingga tarap berat.
4. Kemampuan Membaca Anak Disleksia
Kemampuan membaca erat kaitannya dengan kemampuan berbahasa, sementara itu kemampuan berbahasa berhubungan dengan intelegensi/kecerdasan. Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa anak disleksia ini memiliki kecerdasan rata-rata bahkan ada yang di atas rata-rata. Disisi lain Wiki (2007) berpendapat bahwa mereka itu cukup cerdas dan cukup lancar dalam bicara. Artinya mereka ini seharusnya tidak memiliki kesulitan ketika belajar membaca, tapi kenyataannya meskipun cerdas dan bicaranya cukup lancar mereka mengalami kesulitan belajar membaca. Tingkat kemampuan membaca, menulis ekspresif dan mengejanya berada di bawah rata-rata teman seusianya.
Pada saat membaca mereka menunjukkan adanya tanda-tanda kesulitan membaca sebagai berikut: (1) membaca lamban, turun naik intonasinya, dan kata-demi kata, (2) sering membalik huruf-huruf dan kata-kata, Contohnya b dengan d, p dengan q, u dengan n, kuda dengan daku, palu dengan lupa, tali dengan ilat, papa dibaca dada (3) pengubahan huruf pada kata, misalnya baju menjadi baja, batu menjadi bata, (4) kacau terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya, misalnya: bau, buah, batu, buta, (5) sering menebak dan mengulangi kata-kata dan frasa, (6) menghilangkan sebagian huruf (omission), (7) menambah huruf (addition), (8) terbalik huruf (reversal), (9) tidak menguasai penggunaan tanda baca, misalnya tanda titik (.), tanda koma (,), tanda tanya (?), tanda seru (!) dan (10) kesulitan dalam memahami isi bacaan (Reid dan Hresko 1981:232-233; Shodiq, 1996:5; Somad, P., 2002:40; Abdurrahman, 2003:205; Suherman, 2005:84).
5. Konsep Dasar Membaca Permulaan
Pengajaran membaca secara umum dapat dibagi kedalam dua tahapan, yaitu pengajaran membaca permulaan dan pengajaran membaca lanjut. Adapun pengertian membaca permulaan menurut Dalwadi (2002) adalah tahap awal dalam belajar membaca yang difokuskan kepada mengenal simbol-simbol atau tanda-tanda yang berkaitan dengan huruf-huruf , sehingga menjadi pondasi agar anak dapat melanjutkan ke tahap membaca lanjut. Sedangkan tahap membaca lanjut adalah anak tidak sekedar mengenal simbol atau tanda-tanda tapi sudah mulai mempergunakannya untuk membaca kata atau kalimat sehingga anak memahami apa yang dibacanya (Amin, 1995 : 211).
Pada tahap membaca permulaan, anak membaca huruf atau kata tidak lagi terlalu tergantung pada lingkungan. Pada tahap ini anak masih perlu bantuan seperlunya selama membaca. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca, misalnya ketika anak membaca kata “buku” ditunjukkan wujud bukunya atau gambar buku ada di samping atau di bawah tulisan buku.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.05
0
komentar
Label: ADHD
MENANGANI ANAK HIPERAKTIF DI KELAS
“Aduh anak ini ga bisa duduk diam di bangku, jalan-jalan terus” Demikian sedikit keluhan dari seorang guru kelas satu SD (Sekolah Dasar) yang mengeluhkan anak didiknya karena anak itu jalan-jalan terus di kelas. Akibat tidak bisa duduk diam banyak tugas-tugas belajarnya tidak selesai atau tidak dikerjakan. Teman-temannya pun menganggap ia anak nakal dan pemalas.Perilaku yang digambarkan di atas merupakan sedikit contoh dari perilaku anak hiperaktif. Sebagai guru kita harus waspada terhadap gangguan perilaku hiperaktif itu. Mewaspadai perilaku hiperaktif ini menjadi penting karena perilaku hiperaktif jika tidak diwaspadai dan tidak ditangani dengan tepat maka akan merugikan/mengganggu lingkungan belajar juga merugikan diri anak itu sendiri.
Agar lebih waspada kita kenali terlebih dahulu karakteristik anak hiperaktif. Berdasarkan kajian dari berbagai ahli anak hiperaktif memiliki tiga karakteristik utama, yaitu (1) rentang perhatian yang kurang sehingga anak mudah lupa, tugas tidak tuntas, cenderung menghindari tugas, sulit mencurahkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain (2) memiliki perilaku impulsif yang menyebabkan anak ini sulit diterima temannya karena sering merebut barang miliki orang lain/temannya, sering memotong pembicaraan, banyak bicara, mengganggu teman (3) selalu bergerak sulit untuk duduk diam/tenang memperhatikan, aktivitas motorik yang berlebihan, sulit mengatur kegiatan.
Berdasarkan karakteristik di atas maka jika di kelas terdapat anak hiperaktif dapat dibayangkan bahwa anak itu akan menjadi gangguan dalam proses belajar mengajar, sementara guru sendiri sudah cukup sibuk untuk memperhatikan anak-anak lain. Kesibukan guru akan semakin bertambah dengan hadirnya anak hiperaktif yang membutuhkan perhatian atau bimbingan yang lebih dari guru. Namun demikian sebagai guru yang baik tentunya akan mencari solusi terbaik untuk mengatasi gangguan perilaku hiperaktif pada anak didiknya.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.04
0
komentar
Label: ADHD
Jutaan Anak di Indonesia Berkebutuhan Khusus

Istilah anak berkebutuhan khusus, kata dia, adalah klasifikasi untuk anak dan remaja secara fisik, psikologis dan atau sosial mengalami masalah serius dan menetap. Anak berkebutuhan khusus ini dapat diartikan mempunyai kekhususan dari segi kebutuhan layanan kesehatan, kebutuhan pendidikan khusus, pendidikan layanan khusus, pendidikan inklusi, dan kebutuhan akan kesejahteraan sosial dan bantuan sosial. “Selama dua dekade terakhir istilah anak cacat telah digantikan dengan istilah anak dengan kebutuhan kesehatan khusus,” jelasnya.
Menurut Sunartini, istilah anak dengan kemampuan dan kebutuhan khusus sebagai pengganti istilah anak cacat. Ini dinilainya manusiawi, tapi di Indonesia belum disepakati. Karena itu perlu ditetapkan dalam peraturan perundangan agar dapat dimasukkan sebagai program yang diutamakan di berbagai departemen yang berkaitan. Namun dia mengakui, masalah anak dengan kebutuhan khusus di bidang kesehatan belum menjadi prioritas, masih kalah dengan penyakit infeksi dan berbagai keadaan kurang gizi.
Selain itu, ia menambahkan, sampai saat ini terjadi keterbatasan dan belum disediakannya fasilitas khusus seperti jalan yang bisa dilalui kursi roda, jalan yang aman bagi anak dengan palsi serebral, jalan yang dibuat khusus bagi anak tuna netra hingga bisa mandiri sampai tujuan. Penggunaan jalan seringkali menyebabkan kesulitan bagi anak berkebutuhan khusus. Demikian juga fasilitas kesehatan, masih sukar dicapai para penyandang cacat, di samping petugas kurang tanggap.
Sunartini mengatakan, menghadapi terjadinya anak berkebutuhan khusus karena penyimpangan perkembangan otak, langkah yang paling tepat adalah mengenali atau mendeteksi dini kelainan yang ada, baik oleh penolong persalinan, tenaga kesehatan, serta masyarakat, terutama orangtua dan keluarganya. Setelah itu, diikuti penanganan atau intervensi dini, baik secara promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif.
Banyak faktor penyebab gangguan pembentukan dan perkembangan otak anak sejak saat pembuahan, lahir, saat bayi, masa anak sampai remaja. Pada awal kehamilan terutama minggu kedua sampai keenambelas di saat pembentukan organ ada berbagai hal yang dapat menyebabkan pembentukan otak tidak sempurna atau rusak antara lain karena kekurangn gizi dan mikronutrien seperti iodium, zink, selenium, kekurangan asam folat, obat-obatan teratogenik seperti obat peluntur haid. Juga obat penenang seperti talidomid, keracunan logam berat seperti Hg atau Pb, infeksi intra uterin seperti TORCH dan kekerasan karena usaha pengguguran dengan pijatan.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.01
0
komentar
Label: ADHD
ASESMEN MEMBACA-MENULIS-BERHITUNG, BAGI ANAK TUNAGRAHITA
A. Pengertian Asesmen
Asesmen adalah proses yang sistimatis dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu. Mengumpulkan informasi yang relevan, sabagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan, dan menerapkan seluruh proses pembuatan keputusan tersebut (Mcloughlin and Lewis, 1986:3; Rochyadi & Alimin 2003:44; Sodiq, 1996; Fallen dan Umansky, 1988 dalam Sunardi dan Sunaryo, 2006:80).
Asesmen ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal adalah asesmen dengan menggunakan tes standar yang sudah disusun sedemikian rupa oleh para ahli sehingga memiliki standar tertentu, sedangkan tes informal adalah penilaian dengan menganalisis hasil pekerjaan siswa atau dengan tes buatan guru (McLoughlin dan Lewis, 1986; Mercer dan Mercer, 1989; Abdurrahman, W., 2003:265; Wardani, 2007:8.25 ).
Adapun langkah-langkah untuk melakukan asesmen Widati (2003:5) sebagai berikut melakukan identifikasi, menetukan tujuan asesmen, mengembangkan alat asesmen, dan penafsiran hasil asesmen.
B. Langkah-langkah Melakukan Asesmen
Dalam penyusunan asesmen ini ada beberapa tahapan yang meliputi kegiatan identifikasi, tujuan asesmen, pengembangan alat asesmen, pelaksanaan , penafsiran hasil asesmen.
1. Identifikasi
Identifikasi disini adalah menentukan anak tunagrahita yang akan diasesmen. Identifikasi dapat dilakukan melalui pengamatan/observasi yang cermat mengenai perilaku anak tunagrahita saat belajar dan menganalisis hasil kerja anak. Identifikasi harus menghasilkan siapa yang akan diasesmen dan dalam aspek apa asesmen itu perlu dilakukan.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
22.00
0
komentar
Label: ADHD
PENANGANAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR
- Definisi Anak Berkesulitan Belajar
- Jenis-Jenis Kesulitan Belajar Definisi
-
- Membaca lamban, turun naik intonasinya, dan membaca kata demi kata,
- Sering membalik huruf dan kata-kata,
- Pengubahan huruf pada kata,
- Kacau terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya: bau, buah, batu, buta,
- Sering menebak dan mengulang kata-kata dan frase.
-
-
- Kesulitan membaca atau memahami suatu kata
- Huruf terbalik/tertukar
- Penghilangan kata/suku kata
- Menebak kata
- Menambahkan kata
- Pengulangan pembacaan
- Lambat
- Sulit menangkap isi bacaan
-
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.59
0
komentar
Label: ADHD
SLOW LEARNER
Slow learner atau anak lambat belajar adalah mereka yang memiliki prestai belajar rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90 (Cooter & Cooter Jr., 2004; Wiley, 2007). Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya.
Bagaimanakan kemampuan mereka?
Tidak hanya kemampuan akademiknya yang terbatas tapi juga pada kemampuan-kemampuan lain, dianataranya kemampuan koordinasi (kesulitan menggunakan alat tulis, olahraga, atau mengenakan pakaian). Dari sisi perilaku, mereka cenderung pendiam dan pemalu, dan mereka kesulitan untuk berteman. Anak-anak lambat belajar ini juga cenderung kurang percaya diri. Kemampuan berpikir abstraknya lebih rendah dibandingkan dengan anak pada umumnya. Mereka memiliki rentang perhatian yang pendek.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.57
0
komentar
Label: ADHD
UASBN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Hingga saat ini sudah banyak sekolah reguler (SD/SMP/SMA) yang telah menerima anak berkebutuhan khusus. Dibeberapa wilayah, khususnya di wilayah Kabupaten Bandung, menurut Kelompok Kerja (Pokja) Pendidikan Inklusif Kab. Bandung tercatat hampir 90% Sekolah Dasar Negeri (SDN) telah menerima anak berkebutuhan khusus. Data ini belum termasuk data dari wilayah lain di lingkup Provinsi Jawa Barat, tentunya akan diperoleh akumulasi data yang cukup banyak mengenai sekolah reguler yang telah menerima anak berkebutuhan khusus.
Sebagian data tersebut dapat mencerminkan keberhasilan pendidikan inklusif di Jawa Barat. Namun demikian keberhasilan tersebut menyisakan permasalahan di antaranya adalah ketika anak berkebutuhan khusus yang berada di sekolah reguler harus mengikuti UASBN. Bagi anak berkebutuhan khusus yang high functioning atau tidak mengalami hambatan mental/kecerdasan seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunalaras dapat mengikuti UASBN sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lain halnya bagi anak berkebutuhan khusus yang low functioning atau yang mengalami hambatan mental/kecerdasan dan mereka sudah terdaftar sebagai peserta UASBN. Bagi mereka ini tentunya akan menjadi persoalan ketika harus mengikuti UASBN dengan soal yang sama seperti anak-anak lain pada umumnya, sedangkan kemampuan mereka tidak memadai untuk itu. Kondisi ini merupakan permasalahan yang perlu dicarikan solusinya oleh kita bersama.
Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sebagai solusi untuk mengatasi UASBN bagi anak berkbutuhan khusus low functioning, pertama, sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus harus memberikan keterangan peserta UASBN yang tergelong pada anak berkebutuhan khusus. Keterangan ini berguna untuk menentukan soal mana yang akan digunakan. Kedua, sekolah bersama dinas pendidikan kabupaten/kota madya bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melalui Bidang Pendidikan Luar Biasa (PLB) untuk melakukan identifikasi dan asesmen. Identifikasi dan asesmen ini penting dilakukan agar diperoleh data yang akurat mengenai kemampuan dan hambatan yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus sehingga dapat menjadi dasar dalam pembuatan soal.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.55
0
komentar
Label: ADHD
Anak Berkebutuhan Khusus – Jangan Sisihkan Anak-anak “Down Syndrome” Itu…
Meski anak-anak down syndrome memiliki keterbatasan, mereka tetap mampu berprestasi. Karena itu, anak-anak down syndrome perlu perhatian, didampingi, dan jangan disisihkan.
“Semua anak haruslah dianggap sama. Janganlah mereka disisihkan. Sebaiknya mereka pun dibekali keterampilan,” kata Ny Mufidah Jusuf Kalla saat hadir pada acara wisuda lulusan SD, SMP, dan alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) Dian Grahita, Jakarta, Senin (6/8).
Menurut suster Joanni, Kepala SLB Dian Grahita, wisuda ini sangat berarti bagi anak-anak down syndrome. “Inilah bukti cinta orangtua dan sekolah kepada anak-anak kami. Mudah- mudahan ini titik awal. Saatnya masyarakat menerima dan mencintai anak-anak kami,” katanya.
Down syndrome disebabkan adanya gangguan pada kromosom yang ke-21. Manusia memiliki 23 pasang kromosom. Pada anak down syndrome, kromosom mereka yang ke-21 tidak sepasang (dua), melainkan tiga kromosom (trisomi). Dengan kata lain, down syndrome adalah gangguan genetik.
Pada wisuda hari Senin lalu, ada 30 anak yang diwisuda. Tujuh anak adalah lulusan SD, 11 lulusan SMP, dan 12 anak adalah alumnus SLB Dian Grahita. Mengenakan jubah dan toga berwarna ungu, mereka sangat antusias mengikuti acara wisuda yang dimeriahkan tari-tarian dari rekan-rekan mereka.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.54
0
komentar
Label: ADHD
Kiat Bermain Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
- Ketika bermain bersama, dorong balita untuk berbicara.
- Gunakan satu mainan pada satu waktu.
- Lantai dapat dipilih untuk tempat bermain yang aman.
- Gunakan kata-kata yang nyata sebanyak mungkin.
- Lakukan aktivitas yang ekspresif, seperti mengucapkan kata-kata dengan frasa-frasa pendek, melatih kalimat singkat, dan membaca keras-keras.
- Sesuaikan permainan dengan tingkatan si kecil.
- Jangan memaksa si kecil untuk bermain, ketika si kecil terlihat lelah atau frustasi.
- Ajari si kecil bertingkah laku dengan anak lain: menunggu giliran, adil, tidak menyakiti siapapun.
- Dorong si kecil untuk bertukar mainan, ajarkan untuk tidak merebut mainan dari anak lain.
- Gunakan mainan yang sesuai dengan karateristik si kecil.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.53
0
komentar
Label: ADHD
Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus
PERLU perhatian khusus untuk membesarkan anak berkebutuhan khusus. Bila dibimbing secara maksimal, mereka bisa tumbuh seperti anak normal lainnya.
Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat jumlahnya. Pada Hari Autis Sedunia yang jatuh pada 8 April lalu diketahui bahwa prevalensi anak berkebutuhan khusus saat ini mencapai 10 anak dari 100 anak. Berdasarkan data ini menunjukkan 10 persen populasi anak-anak adalah anak berkebutuhan khusus dan mereka harus mendapatkan pelayanan khusus.
Anak yang dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosional atau perilaku, hambatan fisik, komunikasi, autisme, traumatic brain injury, hambatan pendengaran, hambatan penglihatan, dan anak-anak yang memiliki bakat khusus.
"Mereka secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai aktualisasi potensinya secara maksimal," ucap Dra Psi Heryanti Satyadi MSi saat acara seminar bertema "Mengatasi Anak Berkebutuhan Khusus/Special Needs" yang diselenggarakan KiddyCuts.
Psikolog yang berpraktik di Jalan Paku Buwono VI Nomor 84 Kebayoran Baru ini juga mengatakan, eningkatnya populasi anak berkebutuhan khusus ini salah satunya karena perubahan gaya hidup. "Banyak penyebab meningkatnya angka populasi ini. ang pertama adalah karena semakin banyaknya orang yang peduli terhadap anak berkebutuhan khusus dan adanya perubahan gaya hidup yang memang berbeda pada zaman dulu," ujarnya psikolog dari I Love My Psychologist ini.
Di zaman sekarang ini, banyak orang tua yang hanya memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Hal tersebut juga berdampak pada anak-anak yang menjadi kurang perhatian, terutama pada anakanak yang berkebutuhan khusus. "Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya," papar psikolog yang berpraktik di Kawasan Kelapa Gading ini.
Penyebab seorang anak mengalami keterbelakangan mental ini disebabkan beberapa hal. Antara lain dari dalam dan dari luar. Jika dari dalam adalah karena faktor keturunan.
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.49
0
komentar
Label: ADHD
Dukungan Tulus bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Itulah cerita I am Sam, film keluarga yang dirilis tahun 2001 dan dibintangi Sean Penn, aktor kawakan Amerika. Ceritanya mampu menggambarkan bagaimana seorang penyandang autisme hidup berdampingan dengan masyarakat bahkan mampu bersosialisasi. Anak autisme atau berkebutuhan khusus, bisa mandiri apabila orang-orang di sekitarnya mau menerima dan mendukungnya.
Definisi
Menurut situs Yayasan Autisme Indonesia, autisme bukanlah penyakit, tapi merupakan gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan memengaruhi proses perkembangan anak. Akibatnya, anak tidak dapat otomatis belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Dari tahun ke tahun, jumlah anak penyandang autisme terus bertambah di dunia. Tidak pandangan suku, ras, etnis, kelompok masyarakat, dan perbedaan fisik, autisme bisa terjadi pada siapa pun. Seperti informasi dari situs Autismworld, diperkirakan setiap hari ada 50 anak yang terdiagnosa autisme. Penyandangnya lebih banyak laki-laki dibanding anak perempuan dengan perbandingan 4:1.
Deteksi Autisme
Observasi perilaku bisa mulai dilakukan saat anak-anak masih berusia dini di bawah umur tiga tahun atau saat bayi sekalipun. Biasanya, para orangtua mulai merasakan ada kejanggalan dibandingkan anak-anak seumurnya. Danny Tania, Program Manager & Acting Principal Linguistic Council, memaparkan bahwa untuk membantu mendeteksi anak mengalami autisme atau tidak, bisa dilihat dari sensory processing disorders, baik berupa over sensitive atau under sensitive.
Anak-anak penyandang autisme umumnya mengalami suatu hambatan dan kerusakan fungsi bagaimana mereka memroses panca indera dari lingkungan sekitar. Akibatnya, anak penyandang autisme cenderung bersikap aneh, misalnya menarik
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.48
0
komentar
Label: ADHD
Konsultasi : Anak Tidak Mau Sekolah Karena Sering Diejek
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Bagaimana menyuruh anak saya masuk sekolah karena sudah seminggu ini tidak mau alasannya kawan-kawannya sering mengejek dan dia tidak tahan sehingga ingin pindah sekolah terus.
(Icha, Jakarta)
Jawaban:
Wa'alaikumsalam Wr. Wb.Subhanallah ibu Icha, bila anak ibu tidak masuk sekolah seminggu, mudah-mudahan ketika surat ini sampai pada ibu, anak ibu sudah sekolah kembali ya. Kalau saya memiliki kemampuan ingin rasanya datang dan berjumpa anak ibu dalam memberikan motivasi, masalah dia diejek oleh kawan-kawannya memang akan mendatangkan rasa tidak nyaman. Hal ini yang dapat kita namakan bullying, dimana seringkali hal ini dilakukan oleh sekelompok anak, terhadap satu anak yang dianggap berbeda. Oleh karena itu yang harus dilakukan oleh kita sebagai orangtua adalah: bersikap akomodatif kepada anak, agar dia mau bercerita dan mengeluhkan permasalahannya dan setelah itu, kita harus mendatangi sekolah dan minta bantuan kepada kepala sekolah dan guru untuk mengatasi masalah ini. Hal ini memang agak sulit mengatasi bullyiing, karena terjadi dimana mana dan pelakunya seringkali bersikap innocent dan tidak atau jarang sekali tertangkap tangan. Saya rasa kita
Diposting oleh
Fakhri Mohamad
di
21.46
0
komentar
Label: ADHD




